MASYARAKAT MULAI MANDIRI

Posted by ahmad siddiq On Rabu, 15 Agustus 2012 0 komentar
MEREKA YANG MULAI MANDIRI


Pada satu hari di Banjar Agung, bersama fasilitator kecamatan dengan berboncengan motor bebek kami berencana menyusuri pembangunan jalan desa yang didanai PPK. Untuk menuju lokasi kegiatan kami melewati jalan yang dikiri kanannya dipenuhi oleh pohon-pohon karet masyarakat membuat suasana terik siang itu menjadi sejuk. Pohon-pohon karet berjejer tinggi dan lurus, menimbulkan suasana sensasi alam tersendiri.
info pemberdayaan  masyarakat
info pemberdayaan  masyarakat

Menurut pengakuan TPK, pak Teguh yang mendampingi perjalanan, “alangkah hebatnya kalau pembangunan dilakukan dengan cara PPK. Harusnya para pemimpin bisa melihat hasil yang dikerjakan masyarakat ini”. Katanya dengan mimik serius.

jika dibandingkan dengan pekerjaan dari APBD untuk jalan sepanjang 2 km x 3m x 0,15m dengan biaya Rp. 500.000.000 atau kalau dirata-rata dapat dihitung biaya pembangunan sebesar Rp. 250.000/m’. Di lokasi yang berdekatan sedang dibangun Jalan PPK siklus 9 dengan panjang 1.5 km x 3 m x 0,15 m dibangun Rp. 215.000.000 atau equivalent bila dikerjakan oleh pemborong daerah dengan dana APBD + Rp. 375.000.000. Terjadi efisiensi pekerjaan PPK untuk proyek sejenis sebesar Rp. 160.000.000 (42,7%).

Perkerasan jalan desa Dwi Warga Tunggal Jaya yang menghubungkan dua desa dan merupakan jalan utama masyarakat Dwi Warga Tunggal Jaya dan Moris Jaya ( RK 5 ) Untuk mengeluarkan hasil bumi mereka. Jalan berukuran 1,5 km x 3 m x 0,15 m dengan total biaya Rp. 215.484.500


PPK hanya perlu dana 57% dari anggaran APBD/ Pemerintah untuk membangun pekerjaan sejenis. Suatu angka yang cukup menjanjikan kalau tidak dikatakan fantastis. Faktor utama bukan karena pekerja nya gratisan. Menurut Yono kader teknis desa, “proyek PPK sangat kuat dibidang control keuangan, control kualitas pekerjaan. Maka kebocoran-kebococran yang lumrah terjadi diproyek-proyek sarana prasarana baik APBD maupun APBN sangat sulit terjadi di PPK.” Kecuali mau dipenjara, begitu lanjutnya.

Kunjungan pada desa lain yaitu Moris Jaya kecamatan Banjar Agung juga membuktikan dimana Jembatan Rangka Baja ( H Beam ) lantai Beton sepanjang 4 x 7 m x 0.25 dan satu jembatan lantai beton 4 x 6 m dibangun tahun 2003 dengan biaya sebesar Rp. 74.101.900,- proyek sejenis dengan ukuran sama dari proyek APBD sebesar Rp. 120.000.000 untuk satu unit jembatan. Artinya satu unit jembatan di PPK dengan kualitas yang sama (kadang lebih baik) hanya membutuhkan dana 25% dari dana yang diperlukan bila dikerjakan oleh pihak yang ditunjuk pemerintah daerah. Sekali lagi Fantastis…!



Sumur Bor PPK

Perjalanan kami tak berhenti disitu, monitoring hasil yang sudah dibangun PPK sampailah kami di lokasi sumur bor warga hasil PPK. Masih terawatt dan sangat bermanfaat.
Berikut kisah yang kami catat…Bermula dari sulitnya Sumber Air bersih di musim kemarau, maka masyarakat desa Dwi Warga Tunggal Jaya Kec. Banjar Agung sebanyak 8 RK mengajukan Sumur Bor. Maka pada PPK Siklus 6 th 2005 mereka mengajukan usulan Sumur Bor.

Lahan untuk sumur Bor dan Menara air yang harus disiapkan oleh warga diperoleh dari hibah tanah mereka, rata – rata dengan ukuran 4 x 6 meter. Harga tanah perumahan sudah mecapai Rp 100.000/m2, karena berdekatan dekat pasar kecamatan. Dengan kedalaman sumur 60 meter, menggunakan mesin Pompa Sesuai Specifikasi Grundfos JDF 5 dengan 2 tanki di menara Air maka kucuran Air bersih mulai mengalir untuk + 60 KK di setiap RK.

Maka selama kemarau 2006 yang terjadi sampai bulan Desember 2006 lalu, puluhan Jerigen Air berjejer antri menunggu diisi petugas pompa setiap hari dari pagi sampai sore hari menjelang magrib.

Kata mereka, “Air PPK lancar, bersih dan pungutan jerigen Rp. 250 untuk kas Tim Pemelihara. Dibandingkan harga air yang di jual tanki Air/PAM sebesar Rp. 1000/jerigen”.

Alhasil, pada januari 2007 ini pengelola air bersih khususnya di RK 6 sudah memiliki kas sebesar Rp. 13.000.000. Nilai yang sama dengan biaya pembangunan Sumur Bor tersebut sebesar + Rp. 13.000.000 pada tahun 2005. Total Pembuatan sumur bor sebanyak 8 unit adalah sebesar Rp. 110.976.100.

“ Semua bangunan sumur bor terawat dan bermanfaat, apalagi dibandingkan sumur yang dibangun pihak ketiga yang sudah rusak sebelum di pakai,” ujar pak Teguh TPK DWT Jaya.

“ Dana PPK gak ada yang bocor Pak, malah melampaui target karena banyak yang di tambah volume oleh warga.” Lanjutnya.
Sekali lagi…mereka sudah mulai mandiri…!!!


Masyarakat Desa Dwi Warga Tunggal Jaya RK 6 sabar untuk antri dalam mendapatkan air bersih, Mereka sangat senang dengan adanya Sumur Bor di desanya karena mudah dan murah untuk mendapatkan air. Kas mereka sampai dengan akhir desember ini sudah mencapai Rp. 13.000.000.

0 komentar:

Poskan Komentar